Featured Post

When Your Hubby Says: I Can't Live Without You

A healthy relationship can be built to perpetuate marriage and build a happy family . Say something tenderly with love quotes is one of t...

Showing posts with label Qolb's Travelling (Senyum doong). Show all posts
Showing posts with label Qolb's Travelling (Senyum doong). Show all posts

Thursday, May 22, 2008

Wanita


Sesungguhnya wanita (sanggup) menyembunyikan cinta selama empat puluh tahun, namun dia tidak (sanggup) menyembunyikan kebencian walaupun hanya sesaat.

Sebaik-baik sifat wanita adalah seburuk-buruk sifat lelaki, iaitu : angkuh, penakut, kikir. jika wanita angkuh, dia tidak akan memberi kuasa kepada nafsunya. jika wanita itu kikir, dia akan menjaga hartanya dan harta suaminya. dan jika wanita itu penakut, dia akan takut dari segala sesuatu yang menimpanya.

(Sayyidina Ali Bin Abi Tholib)

MENGAPA MENCARI MAISYAH UNTUK AISYAH DAN BUKAN MENCARI AISYAH AGAR MENDAPATKAN MAISYAH?

Hee, heran ya mendengar e membaca title di atas. By the way, senyum dulu dooong. Senyum itu sedekah lo. Nih, lihat gambar ini dulu biar senyum.


UUh.. capeee. ketiduran deh. udah masak bloooon? Kata suami, makannya beli saja kok jadi ga perlu masak.
Ternyata pekerjaan rumah tangga itu bikin lelah juga ya. tapi kalau dilakukan dengan ikhlas, semua itu juga ibadah lo.

Gini lo inpired ideanya:
Barusan tadi dapat referens ni, dari pertanyaan seorang isteri yang harus nyari maisyah karena si pencari maisyah utama di keluarga (kepala keluarga) masih belum mampu memberikan penghidupan yang layak bagi isteri dan anak-anak. Padahal si isteri juga ga nuntut lo. Na na na, karena harus kerja, sehingga ga punya waktu banyak untuk memperhatikan anak-anak (Yang selalu di rumah selama ini adalah suami, sementara si isteri bekerja di luar rumah), e si isteri terkaget-kaget karena prestasi anak-anaknya sangat jelek dan banyak keluhan dari para guru berkaitan dengan kondisi anak-anaknya tersebut. Akhirnya, sii isteri mulai berencana untuk tidak bekerja lagi, tapi, bagaimana dengan nafkah keluarga yang selama ini menjadi tanggung jawabnya?

O, hangatnya punggung ibu, rasanya tidak akan kutinggalkan punggung sehangat ini. tapi ibu harus kerja sayaaang. Kasihan ibu dooong kallo harus kerja sambil nggendong adek.

Nah itulah makanya judul di atas itu ya gitu deh. Abis sekarang ini ada fenomena para suami mencari isteri agar dapat hidup enak (kayak kasus yang lagi ngetrend nie). Nie kasusnya:
Seotang laki-laki meninggalkan isterinya untuk menikah lagi dengan perempuan yang lebih tua tetapi kaya raya dengan jaminan akan mendapat semua fasilitas kekayaan dari calon isteri mudanya, heeee, nyang bener nie..........

Biar ga panjang-panjang nie lo jawabnya:
Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin, wa ba`du,

Pada dasarnya kewajiban memberi nafkah untuk anak dan isteri ada di pihak suami. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam Alquran.
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain , dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. ?(QS.an-Nisa: 34)

Jadi, kewajiban suamilah untuk berusaha, bekerja, dan mencari penghasilan yang halal guna memenuhi kebutuhan keluarganya, terutama kebutuhan mendasar yang berupa makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Persoalan seorang istri lebih kaya dari suami atau isteri mempunyai penghasilan lebih tidak membuat posisi qawam dan kewajiban memberi nafkah berpindah kepada isteri. Namun ia tetap menjadi tugas suami. Bahkan secara umum, dalam dunia hewanpun yang jantanlah yang selalu mencarikan makan untuk betina dan anak-anaknya.

Karena itu, dalam hal ini seorang wanita atau isteri berhak untuk tidak mengeluarkan uang sedikitpun untuk membantu suami. Sebab Islam memang memberikan posisi dan jaminan kepada para wanita untuk memiliki sendiri harta benda yang dia dapatkan. Harta itu menjadi hak milik sepenuhnya yang tidak bisa begitu saja diminta oleh suaminya.

Meski demikian seorang istri juga boleh dan berhak membantu suami dalam memenuhi tuntutan hidupnya dan keluarganya. Bila hak itu yang dilakukan, tidak ada seorang pun yang boleh menolak atau mencegahnya.

Penjelasan dari kasusu I di atas:

Karena usaha si Isteri mencari penghasilan di samping mendatangkan maslahat tetapi juga mendatangkan begitu banyak mudharat, seperti anak-anak menjadi terlantar, serta si isteri sendiri rentan terhadap fitnah di luar, maka sebaiknya isteri melakukan sejumlah upaya sebagai berikut:

1. memberikan dorongan berikut penyadaran kepada suami agar mau bekerja dan berusaha. Bicarakan semua itu secara baik dengan isteri dengan memberikan pengertian yang bisa membuatnya sadar. Kalau perlu pergunakan berbagai sarana pembantu, seperti buku-buku Islam yang berbicara tentang tanggung jawab suami, serta konsultasi ke orang yang dianggap bisa memberikan penyadaran kepadanya.

2. membuat langkah-langkah perubahan yang sifatnya bertahap dengan mengatur dan menata waktu si isteri. Misalnya kapan waktu untuk bekerja, bersama anak, dan bersama suami. Ini perlu dibicarakan pula dengan suami.

Indah kan bila dapat mesra dengan anak? Ini kan juga bentuk didikan pada anak akan pentingnya ketekunan, ketelatenan, dan kebersamaan, serta perhatian, dan kasih sayang. Jadi anak ga merasa dicuekin.

3. Berdoalah kepada Allah agar suami dan seluruh anggota keluarga diberi petunjuk oleh Allah Swt.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab.

RUMAH, MA'ISYAH DAN ANAK

Mendidik anak dalam skala yang lebih luas tak hanya masalah apa dan bagaimananya. Di luar itu masih banyak hal lain yang harus ada untuk menunjang terbentuknya generasi penerus yang berkualitas. Masalah suplai gizi, sarana pengembangan kreatifitas anak yang beraneka rupa, kesehatan, rekreasi bekal pengetahuan, suasana dan kondisi rumah turut berperan juga. Di lihat dari kaca mata ekonomi, dalam hitungan tertentu, mendidik anak sering identik dengan biaya yang cukup lumayan.
Sunnatullah menggariskan bahwa pengembangan kepribadian seorang anak haruslah berimbang antara fikriyah, ruhiyah dan jasadiyahnya. Orang tua dituntut mampu memenuhi kebutuhan ini, terutama suami/ayah.

Allah Ta'ala berfirman: "Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma'ruf....." (QS.2:223).

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW pernah bersabda: "Satu dinar kau dermakan dalam perjuangan fi sabilillah dan satu dinar kau pergunakan memerdekakan sahaya, dan satu dinar kau sedekahkan pada orang miskin, dan satu dinar yang kau belanjakan untuk keleurgamu, yang terbesar pahalanya ialah yang kau belanjakan untuk keluargamu." (HR. Muslim).

Program yang ideal dari para orang tua muslim untuk mendidik anak, kadang harus kandas karena kurangnya dukungan sarana dan dana. Bagaimanapun anak tak hanya butuh masukan ruh seperti pelajaran shalat, qiro'ah, do'a, akhlaq dan aqidah. Mereka juga butuh masukan yang membuat daya fikirnya mampu berkembang optimal. Dan makanan untuk akal itu erat terkait dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki orang tua, terutama ibu.
Seorang ibu haruslah memahami tahap-tahap perkembangan psikologis dan intelektual seorang anak. Tahu pula kiat melarang yang tidak mematikan kreativitas.
Pengetahuan tersebut bisa di dapatkan seorang ibu dari berbagai sumber, buku, pengalaman, seminar, majalah, koran dan sekolah. Dan semuanya membutuhkan dana sebagai sarana.
Hal yang lain adalah masalah rumah tempat tinggal dan berkembang sang anak. Bagi seorang anak yang frekwensi keluar rumahnya amat sedikit lingkungan rumah amat menentukan kualitas dirinya. Termasuk dalam pembahasan masalah rumah ini adalah menyangkut kondisi fisik dan suasana rumah. Rumah yang lapang dengan ventilasi udara dan pembagian ruangan yang sesuai membantu anak mengembangkan diri dengan baik.

Rasulullah SAW bersabda: "Empat hal yang membawa kebahagiaan, yaitu perempuan shalehah, rumah yang luas, tetangga yang baik dan kendaraan yang enak". (HR.Ibnu Hibban). Bahkan dalam Al Qur'an Allah juga menyinggung fungsi rumah sebagai sumber ketenangan yang otomatis menjadi tempat berkembang yang amat baik bagi sang anak.

"Allah menjadikan untuk kamu rumah-rumah kamu sebagai tempat ketenangan". (QS. 16:80)

Rumah bagi seorang anak tidak hanya tempat berteduh, tapi sekaligus tambatan hati yang akan terkenang dan berpengaruh kuat dalam dirinya. Beragam contoh keputusan besar yang harus diambil seorang pemimpin banyak dipengaruhi suasana masa kanak-kanak. Ruangan yang lapang membuat anak bebas dan kreatif bergerak.
Sementara jumlah perputaran udara dan sinar matahari yang cukup membantu terbentuknya tubuh yang sehat.
Lingkungan rumah yang baik juga erat hubungannya dengan anak. Sebagai makhluq sosial, sang anak mau tidak mau akan berinteraksi dengan tetangga sekitar. Mencari rumah dengan persyaratan seperti ini memang bukan hal yang mudah. Tapi bukan berarti sulit dan tak mungkin. Jadi, mendidik anak sebenarnya identik dengan sarana dan dana.

Artinya, ma'isyah orang tua dalam beberapa hal turut menentukan keberhasilan dalam mendidik anak. Sayangnya banyak di antara kita salah memahami hadits Rasul tentang perlunya zuhud terhadap dunia. Bersabda Rasulullah SAW: "Dunia bagaikan penjara bagi orang-orang muslim dan surga bagi orang-orang kafir" (HR.Muslim). Hadits ini shahih, tapi kita harus memahaminya dalam konteks yang tepat. Penjara bagi seorang muslim di sini tidak identik bahwa seorang muslim harus hidup dalam penderitaan dan kemiskinan. Tapi sesuai dengan do'a Abu Bakar, "Ya Allah jadikanlah kami kaum yang memegang dunia ini dengan tangan kami, bukan dengan hati kami". Dengan pemahaman seperti ini Insya Allah kita dapat mendayagunakan sarana dan dana yang ada dengan proporsional -tepat guna- dan fungsional, sesuai kebutuhan.

Konsekuensinya, halal bahkan wajib bagi kita untuk mencari ma'isyah yang mencukupi standar hidup kita. Bukan berarti kita materialistis. Tapi banyak peluang usaha yang sebenarnya dapat kita manfaatkan. Sekarang ini alhamdulillah berkembang image di kalangan umat Islam untuk kembali kepada sesama muslim. Banyak bidang usaha yang selama ini dipegang oleh non Islam yang harus dipenuhi oleh umat Islam sendiri. Peluang ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
Ma'isyah (penghasilan) yang cukup besar juga merupakan sarana untuk beribadah dalam banyak hal. Sekali lagi jangan terjadi konsep kita yang ideal tentang mendidik anak harus kandas karena lemahnya etos kerja kita. Investasi dalam berbagai bidang memang mahal, tapi investasi dalam mendidik anak tak hanya mendapat balasan dari Allah sebagai sebaik-baik sedekah tapi juga cadangan do'a yang ma'bul dari ank yang shaleh. Semoga Allah memberikan kepada kita anak-anak yang qurrata a'yun.

Wallahu a'lam bish shawwab.

Referensi: http://www.geocities.com/kibar_uk/akhwat/usrah/maisyah.html

Sunday, May 18, 2008

MENGAPA BADAN AYAH MEMBUNGKUK KETIKA USIA TELAH SENJA?







Suatu ketika, ada seorang anak wanita bertanya kepada Ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat Ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yangterbungkuk-bungkuk, disertai suara batuk-batuknya. Anak wanita itu bertanya pada ayahnya: Ayah, mengapa wajah Ayah kian berkerut-merut dengan badan Ayah yang kian harikian terbungkuk?" Demikian pertanyaannya, ketika Ayahnya sedang santai di beranda.

Ayahnya menjawab : "Sebab aku Laki-laki." Itulah jawaban Ayahnya. Anak wanita itu berguman : " Aku tidak mengerti." Dengan kerut-kening karena jawaban Ayahnya membuatnya
tercenung rasa penasaran. Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak wanita
itu, terus menepuk nepuk bahunya, kemudian Ayahnya mengatakan : "Anakku, kamu memang belum mengerti tentang Laki-laki." Demikian bisik Ayahnya, membuat anak wanita itu tambah kebingungan.
Karena penasaran, kemudian anak wanita itu menghampiri Ibunya lalu bertanya :"Ibu mengapa wajah ayah menjadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian terbungkuk? Dan sepertinya Ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit?"
Ibunya menjawab: "Anakku, jika seorang Laki-laki yang benar
benar bertanggung jawab terhadap keluarga itu memang akan demikian." Hanya itu jawaban Sang Bunda. Anak wanita itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa, tetapi dia tetap saja penasaran.

Hingga pada suatu malam, anak wanita itu bermimpi. Di dalam mimpi itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut,
namun jelas sekali. Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban rasa penasarannya selama ini.

"Saat Ku-ciptakan Laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman teduh dan terlindungi. "

"Ku-ciptakan bahunya yang kekar & berotot untuk membanting tulang menghidupi seluruh keluarganya & kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya. "

"Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari tetesan keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun
seringkali dia mendapatkan cercaan dari anak-anaknya. "

"Kuberikan Keperkasaan & mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi keluarganya dia merelakan badannya basah kuyup kedinginan karena tersiram hujan dan hembusan angin, dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya & yang selalu dia ingat, adalah di saat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih payahnya."

"Ku berikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat & membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan
hidupnya keletihan dan kesakitan kerap kali menyerangnya. "

"Ku berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai & mengasihi keluarganya, didalam kondisi & situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya melukai hatinya. Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi & mengasihi sesama saudara."

"Ku-berikan kebijaksanaan & kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan padanya untuk memberikan pengetahuan & menyadarkan, bahwa Istri yang baik adalah Istri yang setia terhadap Suaminya, Istri yang baik adalah Istri yang senantiasa menemani. & bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada Istri, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar & saling melengkapi serta saling menyayangi."

"Ku-berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti bahwa Laki-laki itu senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari & menemukan cara agar keluarganya bisa hidup di dalam keluarga bahagia & BADANNYA YANG TERBUNGKUK agar dapat membuktikan, bahwa sebagai laki-laki yang bertanggungjawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya. "

"Ku-berikan Kepada Laki-laki tanggung jawab penuh sebagai Pemimpin keluarga, sebagai Tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh laki-laki, walaupun sebenarnya tanggung jawab ini adalah Amanah di Dunia & Akhirat."

Terbangun anak wanita itu, dan segera dia berlari, berlutut & berdoa hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri bilik Ayahnya yang sedang berdoa, ketika Ayahnya berdiri anak wanita itu merengkuh dan mencium telapak tangan Ayanya. " AKU MENDENGAR & MERASAKAN BEBANMU, AYAH."


















Dunia ini memiliki banyak keajaiban, segala ciptaan Tuhan yang begitu agung, tetapi tak satu pun yang dapat menandingi keindahan tangan Ayah... With Love to All Father

di sadur dari
http://erristaslim.blogspot.com/2008/03/hati-seorang-ayah.html

Friday, May 16, 2008

Nasruddin: Periuk beranak

Alkisah:

Pada suatu hari, Nasrudin meminjam periuk kepada tetangganya. Oleh tetangganya tersebut Nasruddin dipinjami sebuah periuk yang sudah tua dan usang. Seminggu kemudian, ia mengembalikannya dengan menyertakan juga periuk kecil di dalam periuk tua dan usang tersebut. Ketika tetangganya tersebut menerima periuk tersebut dan melongok ke dalam periuk tua dan usang, tetangganya heran dan bertanya mengenai periuk kecil itu.
"Hai, ini periuk siapa? lucu, mungil, dan masih baru." ujarnya heran
"Periukmu sedang hamil waktu kupinjam. Dua hari kemudian ia melahirkan bayinya dengan selamat."
Tetangganya itu menerimanya dengan senang. Nasrudin pun pulang.

Beberapa hari kemudian, Nasrudin meminjam kembali periuk itu. Dengan senang hati, tetangganya tersebut memberikan pinjaman periuk kepada nasrudin dengan harapan periuk tersebut akan melahirkan lagi di rumah Nasrudin. Namun kali ini Nasrudin pura-pura lupa mengembalikannya. Sang tetangga mulai gusar, dan ia pun datang ke rumah Nasrudin,

Sambil terisak-isak, Nasrudin menyambut tamunya, "Oh, sungguh sebuah malapetaka. Takdir telah menentukan bahwa periukmu meninggal di rumahku. Dan sekarang telah kumakamkan."
Sang tetangga menjadi marah, "Ayo kembalikan periukku. Jangan belagak bodoh. Mana ada periuk bisa meninggal dunia!"

"Tapi periuk yang bisa beranak, tentu bisa pula meninggal dunia," kata Nasrudin, sambil menghentikan isaknya.

Kesalehan Sosial Vs Kesalehan Spiritual

Alkisah:

Pada suatu hari Rosulullah SAW sampai di sebuah desa. Di desa tersebut Rosulullah SAW bertanya kepada salah seoarang penduduk, sebut saja si Taufiq,
"Siapakah dia yang masih duduk di dalam masjid tersebut, dia nampak khusyuk sekali doa dan dzikirnya"
"Ya Rosul, kekasih Allah, dia adalah Fulan," Taufiq menjawab.
"Dia adalah orang yang paling saleh di desa ini. Dia tidak pernah meninggalkan sholat jama'ah di masjid dan bahkan selalu datang tepat waktu. Pekerjaannya dzikir dan membaca wirid sepanjang hari dan sepanjang malam, puasanya sunnahnya sangat rajin. Dia juga selalu bangun di sepertiga malam terakhir, ketika semua penduduk tertidur lelap. Saya yakin ya Rosul kekasih Allah, si Fulan pasti akan menjadi penghuni surga yang pertama setelah Rosulullah SAW."
Rosulullah SAW mengangguk-angguk dan kemudian bertanya.
"Apakah Fulan memiliki anak dan isteri?"
"O iya Rosulullah. Fulan memiliki isteri dan anak-anak laki-laki serta anak-anak perempuan. Keluarga Fulan adalah keluarga yang berbahagia." Taufiq menjelaskan panjang lebar.
"Kalau begitu, bagaimana anak dan isterinya mendapatkan nafkah?" Rosulullah bertanya lagi.
"Fulan memiliki seorang kakak yang sangat giat bekerja dan kakaknya tersebutlah yang menafkahi keluarga Fulan, anak dan isterinya." jawab Taufiq.
"Kalau begitu, kakaknya itulah nanti yang akan masuk syurga." Rosulullah SAW berkata.
Taufiq mengernyitkan dahinya.
*****
Heee... membaca cerita di atas pasti mengernyitkan dahi, iya kan?

Meski puasa, sho;at, dzikrullah dan berbagai macam ibadah ritual bersifat privat (pribadi), tapi di dalamnya mengandung ajaran-ajaran sosial yang penting untuk ditransformasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Yaitu dengan memberikan motivasi yang mengantarkan seseorang untuk dapat berlaku seimbang dalam menjalankan kesalehan individu yang bersifat ritualistik dan kesalehan sosial yang bernuansa sosiologis.
Kendati Tuhan selalu menjanjikan kepada manusia dengan berbagai macam pahala yang berlipat ganda, jika melakukan ritual-ritual tertentu, hal ini sebenarnya lebih merupakan salah satu bentuk upaya untuk meningkatkan kesalehan yang bersifat pribadi, di mana nantinya kesalehan pribadi ini akan tercermin dalam kehidupan nyata sebagai sebuah kesalehan sosial.Adanya pemahaman bahwa kesalehan ritual lebih penting dari aksi sosial, sebenarnya tak bisa dilepaskan dari kesalahan manusia dalam memaknai arti takwa yang kerap diorientasikan sebagai "melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya". Padahal, jika saja takwa tersebut dimaknai sebagai "kesadaran ketuhanan" (God consciousnees), yang substansinya mesti ditransformasikan dalam laku kesalehan vertikal-horizontal, maka buah dari takwa itu akan sangat mengena dalam segala lini kehidupan manusia di dunia.

Kurangnya pemahaman dalam memaknai kalimat tersebut, seolah-olah takwa hanya dimaksudkan pada hal-hal yang bersifat ubudiyyah (ketuhanan), sehingga yang bersifat muamalah (kemanusiaan) tidak dianggap sebagai bagian darinya. Pemaknaan semacam ini seharusnya dapat ditinjau ulang. Karena makna takwa juga harus diarahkan pada rasa kepedulian terhadap hal-hal yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Dengan demikian, ibadah ritual seharusnya dijadikan momentum peluluhan diri untuk hanyut dalam samudera kedalaman misteri ilahi demi memulihkan, "energi yang menghidupkan". Yaitu wahana pertemuan antara perkhidmatan kepada Tuhan dan perkhidmatan kepada kemanusiaan. Lewat peluluhan sang ego dalam samudra rahmat Ilahi itulah, setidaknya manusia bisa menyibak pakaian-pakaian simbolik dari keagamaan yang menjadi pangkal pertikaian menuju inti keberagamaan itu sendiri: compassion, kasih-sayang. Betapa banyak orang yang mengaku beragama berhenti pada rutinitas ritual-simbolik, tanpa ada kemampuan menemukan wahana transformasi diri dalam keintiman dengan "langit suci" dan "bumi insani". Artinya, banyak umat beragama yang lebih asyik dengan urusan pelana seraya melupakan kuda.

Dengan beragai aktivitas ritualitas keberagamaan maka manusia akan semakin bernilai. Dan, nilai itu pun diberi bobot lebih dengan meletakkan moralitas dan cinta pada jantung kehidupan beragama, yang membuat agama bisa menjadi rahmat bagi sesama-semesta.

Tulisan Terbaru